Sunday, November 27, 2011

Mukjizat dalam Diri Nabi Muhammad

oleh Anggit Tinarbuka AW



Salah satu mukjizat Rasulullah saw. Adalah Alquran al-Karim,dan ini merupakan mukjizat terbesar. Mukjizat yang lain adalah: pembedahan dada beliau oleh malaikat; Isra’mi’raj;kabar beliau (kepada kaum Quraisy) tentang Bait al-Muqaddas;bulan terbelah dua; peristiwa yang terjadi ketika beliau keluar rumah berangkat hijrah (ketika itu kaum Musyrik Quraisy bersepakat membunuh beliau. Pada saat itu beliau keluar dari rumah,mereka yang mengepung beliau semuanya mengantuk hingga beliau dengan laluasa dapat melewati mereka). Dalam Perang Badr beliau mengambil segenggam pasir lalu dilemparkan kea rah pasukan musuh, sehingga setiap musuh yang terkena butiran pasir jatuh terjungkal dan mati.



Demikian pula yang beliau lakukan pada Perang Hunain sehingga musuh berhasil dikalahkan. Ketika Suraqah bin Malik mengejar beliau dalam perjalan hijrah ke Madinah,kaki kuda yang ditungganginya terperosok ke tanah dan terjepit di dalamnya.

Kambing betina milik Ummu Ma’bad yang belum pernah kawin, ketika teteknya diuasp-usap Rasulullah saw., tiba-tiba dapat mengeluarkan susu demikian banyak untuk diminum rombongan beliau bersama Ummu Ma’bad. Bahkan dapat mengisi penuh qirbah (wadah air terbuat dari kulit) untuk bekal melanjutkan perjalanan ke Madinah.

Terkabulnya doa beliau ketika memohon kepada Allah agar agama Islam diperkuat dengan masuknya ‘Umar bin al-Khaththab r.a. Terkabulnya doa beliau ketika memohon kepada Allah agar ‘Ali bin Abi Thalib disembuhkan dari penyakit mata dan dikebalkan badannya dari gangguan udara panas dan dingin. Seketika itu juga doa beliau terkabul dan ‘Ali dapat memimpin pasukan bersenjata dalam Perang Khaibar melawan Yahudi.

Dalam suatu perperangan, mata Qatadah bin Nu’man terkena senjata musuh hingga biji matanya keluar. Dengan pertolongan Allah, Rasulullah saw. Berhasil mengembalikan biji mata Qatadah dan sembuh seketika itu juga. Terkabulnya doa beliau ketika mohon kepada Allah agar ‘Abdullah bin al-‘Abbas dikaruniai kecerdasan untuk menakwil dan mendalami ilmu-ilmu agama. Unta milik Jabir yang pada mulanya kalah berpacu,namun setelah Rasulullah saw. Mendoakan, unta itu menang berpacu saat itu.

Terkabulnya doa beliau agar Anas dikaruniai umur panjang, mempunyai banyak harta dan anak keturunan. Pohon kurma milik Jabir yang mulanya berbuah sedikit,setelah didoakan Rasulullah saw. Bias berbuah banyak sehingga Jabir dapat melunasi utang-utangnya. Bahkan buah kurmanya masih tersisa 13 takar (wusq).

Terkabulnya doa beliau ketika memohon agar Allah menurunkan hujan. Seketika itu juga hujan turun selama satu minggu penuh. Setelah itu beliau memohon agar hujan berhenti,awan sirna dan cuaca berubah menjadi cerah. ‘Utaibah bin Abu Lahab, orang yang sangat memusuhi Allah dan Rasul-Nya,atas permohonan Rasulullah saw. Dan doa beliau, ia mati diterkam singa, di daerah az-Zarqa’,negeri Syam.

Pada malam bi’tsah Rasulullah saw.,batu dan pohon mengucapkan salam, “Assalamu’alaikum, ya Rasulullah!” Mengenai hal itu beliau mengatakan, “Aku tahu bahwa ada batu di Makkah yang mengucapkan salam kepadaku beberapa saat sebelum aku diangkat menjadi Nabi dan Rasul.” Ada pula sebatang pohon yang bergerak mendekati beliau, dan batu yang digenggamnya bertasbih (mengagungkan kesucian Allah).

Ketika beliau hendak dibunuh dengan racun dalam makanan yang dihadiahkan seorang perempuanYahudi, tiba-tiba daging masakan di dalam hidangan itu memberi tahu beliau

Seekor unta mengeluh kepada beliau karena diberi makan sedikit dan diperkerjakan terlalu berat

Beliau memberitahu para sahabat bahwa kelak aka nada kelompok dari umatnya yang akan mengarungi samudera,termasuk di dalamnya seorang wanita bernama Ummu Haram binti Milhan. Dan ucapan beliau menjadi kenyataan.

Kepada ‘Utsman bin ‘Affan r.a. beliau memberitahu bahwa dia akan menghadapi malapetaka besar. Itu juga terbukti di kemudian hari ‘Utsman r.a. mati terbunuh saat berkedudukan sebagai Khalifah.

Kepada kaum Anshar beliau mengatakan,”Sepeninggalku, kalian akan mengutamakan golongan sendiri.” Itu juga terbukti beberapa saat setelah beliau wafat.

Mengenai cucu beliau,al-Hasan bin ‘Ali r.a., beliau berkata,”Anakku ini-yakni Hasan-seorang Sayyid (Pemimpin). Dengannya Allah akan mendamaikan dua golongan besar kaum muslimin.” Itu terbukti dengan terwujudnya kesepakatan antara para pengikut Imam ‘Ali bin Abi Thalib dan para pengikut Mu’awiyah bin Abi Sufyan.

Beliau memberitahu para sahabat tentang terbunuhnya al-‘Unsi al-Kadzdzab dan orang yang membunuhnya. Padahal di malam terjadinya pembunuhan itu al-‘Unsi berada di Shan’a(Yaman) dan beliau berada di Madinah.

Kepada Tsabit bin Qais beliau berkata,”Engkau akan hidup terpuji dan akan mati syahid.” Kemudian terbukti Tsabit gugur sebagai pahlawan dalam Perang di Yamamah.

Seorang lelaki meninggalkan agama Islam (murtad) dan kembali bergabung dengan kaum Musyrik. Ketika Rasulullah mendengar kematiannya, beliau berkata,”Bumi tidak sudi menerimanya.” Itu terbukti ketika mayatnya dibuang ke laut.

Seorang lelaki diminta oleh Rasulullah saw. Supaya makan dengan tangan kanannya, tetapi ia menjawab,”Tidak bias.” Beliau berkata, “Engkau tidak akan bias.” Sejal itu orang tersebut tidak bias sama sekali mengangkat tangan kanannya sampai ke mulut.

Pada hari jatuhnya kota Makkah ke tangan kaum Muslim, banyak berhala terpancang di sekitar Ka’bah. Raslululla saw. Dengan tongkat pendeknya menuding kearah berhala-berhala itu sambil berucap, “Kebenaran telah tiba dan kebatilan pasti lenyap.” Seketika itu juga berhala-berhala itu runtuh berjatuhan.

Dalam Perang Khandaq,Rasulullah saw. Memberi makan pasukan Muslim dengan setakar gandum. Semuanya makan hingga kenyang,bahkan sisanya masih banyak. Pada waktu makan berikutnya Rasulullah saw. Hanya mempunyai sedikit kurma bagi pasukan Muslim. Beliau lalu menyuruh orang mengumpulkan sisa-sisa kurma yang tercecer di atas hamparan, lalu beliau berdoa memohon berkah. Sisa-sisa kurma yang terkumpul itu kemudian menjadi banyak hingga cukup dibagikan kepada semua pasukan. Pada saat yang lain Abu Hurairah r.a. datng kepada Rasulullah membawa sedikit kurma. Ia minta agar beliau berdoa memohon berkah. Permintaannya dikabulkan dan beliau berdoa. Abu Hurairah menceritakan kesaksiannya sendiri sebagai berikut,”Dari kurma itu saya keluarkan sekian takar untuk perjuangan di jalan Allah. Kami sendiri makan dari kurma itu dan baru habis pada masa kekhalifahan ‘Utsman bin ‘Affan r.a.”

Abu Hurairah r.a. menuturkan, pada suatu hari dia meminta Rasulullah saw. Berdoa agar tsarid (semacam bubur kental terbuat dari terigu dan susu ) yang berada di dalam qush’ah (piring besar ) cukup untuk dimakan bersama oleh beberapa orang sahabat. Setelah berdoa beliau mengambil sejumput tsarid yang berlepotan di pinggir qush’ah dengan jari-jari tangannya,kemudian berkata,”Makanlah, Bismillah!” Abu Hurairah mengakhiri penuturannya dengan berucap, “Demi Allah yang nyawaku berada di tangan-Nya, baru saja makan sedikit,aku sudah kenyang.”

Pernah terjadi air memancar dari sela-sela jari Rasulullah saw. Hingga semua rombongan beliau dapat minum sepuas-puasnya dan dapat berwudhu. Padahal jumlah mereka tidak sedikit,yaitu sekitar 1400 orang.

Pada suatu musim kering,di tengah perjalanan disertai rombomgan, beliau menyuruh orng mencari air semangkuk. Kemudian Rasulullah saw. Memasukkan jari-jarinya ke dalam air itu seraya berkata, “Marilah semua ke sini!” Semuanya dating mendekati beliau lalu berwudhu. Air di dalam mangkuk itu tak kunjung habis,padahal jumlah mereka antara 70 sampai 80 orang.

Dalam Perang Tabuk hampir tak seorang pun dari pasukan Muslim yang menemukan air untuk diminum. Karena nyaris tak sanggup menahan dahaga, mereka melapor kepada Rasulullah saw. Beliau lalu mengambil anak panah dari Kinanah lalu beliau tancapkan di tanah. Air memancar sangat deras sehingga semua pasukan yang berjumlah 30.000 orang dapat minum sepuas-puasnya.

Di suatu tempat yang disinggahi Raulullah saw., penduduknya mengeluh karena semua air di sana bercampur kotoran dan tidak dapat diminum. Bersama beberapa orang sahabat, beliau mendatangi  sebuah sumur lalu meludahinya. Tiba-tiba sumur itu menggelegak penuh dangan air sejuk dan bersih, hingga semua penduduk dapat tertolong.

Pada suatu hari seorang wanita datang menghadap Rasulullah saw. Membawa anak kecil berkepala botak karena penyakit. Rasulullah saw. Lalu mengusapkan tangannya pada kepala anak itu, dan seketika itu juga rambutnya tumbuh meratai kepala dan sembuh pula penyakit yang dideritanya. Ketika penduduk Yamamah mendengar kejadian itu ada seprang wanita mencoba datang kepada Musailamah (tokoh setempat yang mengaku dirinya “Nabi”) membawa juga anak kecil tidak berambut. Masailamah mengusap kepalanya berulang-ulang, tetapi kepala anak itu tetap botak.

Dalam perang Badr, pedang ‘Ukasyah patah. Rasulullah saw. Memberinya sebatang kayu sebagai pengganti. Di tangan ‘Ukasyah kayu itu berubah menjadi pedang. Usai perang kayu itu masih tetap dia pegang.

Dalam Perang Khandaq (Perang Ahzab) pasukan Muslim menghadapi kesulitan memecahkan sebuah batu besar dank eras pada saat mereka sedang menggali parit-parit pertahanan. Batu yang tak dapat dipecahkan dengan palu besar itu pada akhirnya dipukul oleh Rasulullah saw. Dengan tangan hingga hancur berkeping-keping.

Seorang yang menderita patah kaki datang kepada Rasulullah saw. Mohon pertolongan, Rasulullah saw. Lalu mengusapkan kaki yang patah itu, dan sembuhlah seketika, hingga orang itu seolah-olah tidak pernah sakit sebelumnya.

Bentuk-bentuk mukjizat Rasulullah saw. Banyak sekali, nyaris tak dapat dihitung dan dicatat seluruhnya.

Sumber Referensi:

Sayyid Muhammad bin ‘Alawi Bin ‘Abbas Al-Maliki al-Hasani. Buku Ringkasan Sejarah Nabi Muhammad SAW ( Alhawaadits wa al ahwaal an Nabawiyyah). Penerbit : Darul Hidayah Hal 61-67]

Monday, November 14, 2011

Jika Mimpi Buruk

oleh Anggit Tinarbuka AW


Beberapa malam yang lalu, kejadian ini terjadi. Setiap orang tentu tidak tahu bagaiamana dan kapan hal ini dapat menimpanya. Mimpi buruk. Tetapi setidaknya, sebagai umat muslim, kita diharapkan bertindak sesuai dengan adab muslim dan syariat yang diajarkan dan dicontohkan oleh Nabi kita.



Mimpi buruk adalah mimpi jelek yang berasal dari setan dan Nabi melarang kita menceritakan mimpi jelek yang kita alami kepada siapa pun. Dan apabila itu mimpi baik yang kita dapatkan, berarti mimpi itu datangnya dari Allah. Anjuran untuk tidak menceritakan mimpi ini tertuang dalam hadits berikut


عَنْ جَابِرٍ قَالَ جَاءَ أَعْرَابِىٌّ إِلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ رَأَيْتُ فِى الْمَنَامِ كَأَنَّ رَأْسِى ضُرِبَ فَتَدَحْرَجَ فَاشْتَدَدْتُ عَلَى أَثَرِهِ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لِلأَعْرَابِىِّ « لاَ تُحَدِّثِ النَّاسَ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِكَ فِى مَنَامِكَ ». وَقَالَ سَمِعْتُ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- بَعْدُ يَخْطُبُ فَقَالَ « لاَ يُحَدِّثَنَّ أَحَدُكُمْ بِتَلَعُّبِ الشَّيْطَانِ بِهِ فِى مَنَامِهِ ».

Dari Jabir, ada seorang arab badui datang menemui Nabi lantas berkata,

“Ya rasulullah, aku bermimpi kepalaku dipenggal lalu menggelinding kemudian aku berlari kencang mengejarnya”. Nabi lantas bersabda kepada orang tersebut, “Janganlah kau ceritakan kepada orang lain ulah setan yang mempermainkan dirimu di alam mimpi”. Setelah kejadian itu, aku mendengar Nabi menyampaikan dalam salah satu khutbahnya, “Janganlah salah satu kalian menceritakan ulah setan yang mempermainkan dirinya dalam alam mimpi”. (HR Muslim no 6063)


Adapun hal yang kita lakukan apabila kita mengalami hal tersebut adalah dengan seperti yang dituliskan dalam hadits berikut.


Hadits riwayat Abu Qatadah, ia berkata: Aku pernah mendengar Rasulullah bersabda:

“Mimpi baik (rukyah) itu datang dari Allah dan mimpi buruk (hilm) datang dari setan. Maka apabila salah seorang diantara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan hendaklah dia meludah ke samping kiri sebanyak tiga kali dan memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatannya sehingga mimpi itu tidak akan membahayakannya.” (HR Muslim No.4195)


Hadits riwayat Abu Hurairah, ia berkata: Dari Nabi bahwa beliau bersabda:

“Ketika kiamat telah mendekat, mimpi seorang muslim hampir tidak ada dustanya. Mimpi salah seorang di antara kalian yang paling mendekati kebenaran adalah mimpi orang yang paling jujur dalam berbicara. Mimpi orang muslim adalah termasuk satu dari empat puluh lima bagian kenabian. Mimpi itu dibagi menjadi tiga kelompok: Mimpi yang baik, yaitu kabar gembira yang datang dari Allah. Mimpi yang menyedihkan, yaitu mimpi yang datang dari setan. Dan mimpi yang datang dari bisikan diri sendiri. Jika salah seorang di antara kalian bermimpi yang tidak menyenangkan, maka hendaknya dia bangun dari tidur lalu mengerjakan salat dan hendaknya jangan dia ceritakan mimpi tersebut kepada orang lain. Beliau berkata: Aku gembira bila mimpi terikat dengan tali dan tidak suka bila mimpi dengan leher terbelenggu. Tali adalah lambang keteguhan dalam beragama. Kata Abu Hurairah: Aku tidak tahu apakah ia termasuk hadits atau ucapan Ibnu Sirin.” (HR Muslim No.4200)


Dalam anjuran lain, doa yang diucapkan ketika kita mengalami mimpi buruk adalah ini:

ALLOOHUMMA INNI A’UUDZUBIKA MIN ‘AMALISY SYAITHOONI WA SAYYI'AATIL AHLAAM


Artinya:

“ Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari perbuatan setan dari mimpi-mimpi yang buruk ”


Selain mengenal bagaimana tindakan kita ketika mendapat mimpi buruk, alangkah baiknya juga kita memperhatikan amalan yang dilakukan sebelum kita tidur. Salah satu nya adalah dengan berwudhu, salat 2 rakaat, membersihkan tempat tidur kemudian berdoa meminta penjagaan selama tidur. Insyaallah kita dapat terhindar dari mimpi buruk maupun dari hal-hal lainnya, walaupun begitu hanya Allah lah yang Maha Mengetahui dan Maha Kuasa atas hamba-hambaNya.


Semoga tidur kita dapat dinilai ibadah pula oleh Allah.


Wallahua’lam bish showab

 

Sumber referensi:

http://ustadzaris.com/menceritakan-mimpi-buruk

http://mentoz07.blogspot.com/2009/01/doa-ketika-mendapat-mimpi-buruk.html

http://www.aaezha.com/adab-ketika-mimpi-buruk

Wednesday, November 2, 2011

Etika Makan dalam Islam



oleh Anggit Tinarbuka AW



Etika Sebelum Makan

Etika sebelum makan adalah sebagai berikut :

1.      Makanan dan minumannya halal, bersih dari kotoran-kotoran haram, dan syubhat, karena Allah Ta’ala berfirman,

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezki yang baik-baik yang Kami berikan kepada kalian.” (Al Baqarah 172).

Yang dimaksud rizki yang baik ialah halal yang tidak ada kotoran di dalamnya.

2.      Ia meniatkan makanan dan minumannya untuk menguatkan ibadahnya kepada Allah Ta‘ala, agar ia diberi pahala karena apa yang ia makan, dan ia minum. Sesuatu yang mubah jika diniatkan dengan baik, maka berubah statusnya menjadi ketaatan dan seorang Muslim diberi pahala karenanya.

3.      Ia mencuci kedua tangannya sebelum makan jika keduanya kotor, atau ia tidak dapat memastikan kebersihan keduanya.

4.      Ia meletakkan makanannya menyatu di atas tanah, dan tidak di atas meja makan, karena cara tersebut lebih dekat kepada sikap tawadlu’, dan karena ucapan Anas bin Malik ra,

“Rasulullah saw. pernah makan di atas meja makan atau di piring.” (HR Bukhari).

5.      Ia duduk dengan tawadlu dengan duduk berlutut, atau duduk di atas kedua tumitnya, atau menegakkan kaki kanannya dan ia duduk di atas kaki kirinya, seperti duduknya Rasulullah saw., karena Rasulullah saw. bersabda,

“Aku tidak makan dalam keadaan bersandar, karena aku seorang budak yang makan seperti makannya budak, dan aku duduk seperti duduknya budak.” (HR Bukhari).

6.      Menerima makanan yang ada, dan tidak mencacatnya, jika ia tertarik kepadanya maka ia memakannya, dan jika ia tidak tertarik kepadanya maka ia tidak memakannya, karena Abu Hurairah ra berkata,

“Rasulullah saw. tidak pernah sekali pun mencacat makanan, jika beliau tertarik kepadanya maka beliau memakannya, dan jika beliau tidak tertarik kepadanya maka beliau meninggalkannya.” (HR Abu Daud).

7.      Ia makan bersama orang lain, misalnya dengan tamu, atau istri, atau anak, atau pembantu, karena Rasulullah saw. bersabda,

“Berkumpullah kalian di makanan kalian niscaya kalian diberi keberkahan di dalamnya.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

 

Etika ketika sedang Makan

Di antara etika sedang makan ialah sebagai berikut:

1.      Memulai makan dengan mengucapkan basmalah, karena Rasulullah saw. bersabda,

“Jika salah seorang dari kalian makan, maka sebutlah nama Allah Ta’ala. Jika ia lupa tidak menyebut nama Allah, maka hendaklah ia menyebut nama Allah Ta‘ala pada awalnya dan hendaklah ia berkata, Dengan nama Allah, sejak awal hingga akhir.”

(HR Abu Daud dan At-Tirmidzi yang menshahih- kannya).

2.      Mengakhiri makan dengan memuji Allah Ta‘ala, karena Rasulullah saw. bersabda,

“Barangsiapa makan makanan, dan berkata, ‘Segala puji bagi Allah yang memberi makanan ini kepadaku, dan memberikannya kepadaku tanpa ada daya dan upaya dariku’, maka dosa-dosa masa lalunya diampuni.” (Muttafaq Alaih).

3.      Ia makan dengan tiga jari tangan kanannya, mengecilkan suapan, mengunyah makanan dengan baik, makan dari makanan yang dekat dengannya (pinggir) dan tidak makan dari tengah piring, karena dalil-dalil berikut Rasulullah saw. bersabda kepada Umar bin Salamah,

“Hai anak muda, sebutlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu, dan makanlah dari makanan yang dekat denganmu (pinggir).” (Muttafaq Alaih).

4.      “Keberkahan itu turun di tengah makanan. Maka oleh karena itu, makanlah dari pinggir-pinggirnya, dan janqan makan dari tengahnya.” (Muttafaq Alaih).

5.      Mengunyah makanan dengan baik, menjilat piring makanannya sebelum mengelapnya dengan kain, atau mencucinya dengan air, karena dalil-dalil berikut: Rasulullah saw. bersabda,

“Jika salah seorang dari kalian makan makanan, maka ia jangan membersihkan jari-jarinya sebelum ia menjilatnya.” (HR Abu Daud dan At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

Ucapan Jabir bin Abdullah ra bahwa Rasulullah saw. memerintahkan menjilat jari-jari dan piring. Beliau bersabda,

“Sesungguhnya kalian tidak mengetahui di makanan kalian yang mana keberkahan itu berada.” (HR Muslim).

6.      Jika ada makanannya yang jatuh, ia mengambil dan memakannya, karena Rasulullah saw. bersabda,

“Jika sesuap makanan kalian jatuh, hendaklah ia mengambilnya, membuang kotoran daripadanya, kemudian memakan sesuap makanan tersebut, serta tidak membiarkannya dimakan syetan.” (HR Muslim).

7.      Tidak meniup makanan yang masih panas, memakannya ketika telah dingin, tidak bernafas di air ketika minum, dan bernafas di luar air hingga tiga kali, karena dalil-dalil berikut: Hadits Anas bin Malik ra berkata,

“Rasulullah saw. bernafas di luar tempat minum hingga tiga kali.” (Muttafaq Alaih).

Hadits Abu Said Al- Khudri ra, bahwa Rasulullah saw. melarang bernafas di minuman. (HR At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya). Hadits lbnu Abbas ra bahwa Rasulullah saw. melarang bernafas di dalam minuman, atau meniup di dalamnya. (HR At-Tirmidzi yang men-shahih-kannya).

8.      Menghindari kenyang yang berlebih-lebihan, karena Rasulullah saw., bersabda,

“Anak Adam tidak mengisi tempat yang lebih buruk daripada perutnya. Anak Adam itu sudah cukup dengan beberapa suap yang menguatkan tulang punggungnya. Jika ia tidak mau (tidak cukup), maka dengan seperti makanan, dan dengan seperti minuman, dan sepertiga yang lain untuk dirinya.” (HR Ahmad, Ibnu Majah, dan Al-Hakim. Hadits ini hasan).

9.      Memberikan makanan atau minuman kepada orang yang paling tua, kemudian memutarnya kepada orang-orang yang berada di sebelah kanannya dan seterusnya, dan ia menjadi orang yang terakhir kali mendapatkan jatah minuman, karena dalil-dalil berikut: Sabda Rasulullah saw.,

“Mulai dengan orang tua. Mulailah dengan orang tua.” Maksudnya, mulailah dengan orang-orang tua. Rasulullah saw. meminta izin kepada Ibnu Abbas untuk memberi makanan kepada orang-orang tua di sebelah kiri beliau, sebab Ibnu Abbas berada di sebelah kanan beliau, sedang orang-orang tua berada di sebelah kiri beliau. Permintaan izin Rasulullah saw. kepada Ibnu Abbas untuk memberikan makanan kepada orang-orang tua di sebelah kiri beliau itu menunjukkan bahwa orang yang paling berhak terhadap minuman ialah orang yang duduk di sebelah kanan. Sabda Rasulullah saw., “Sebelah kanan, kemudian sebelah kanan.” (Muttafaq Alaib).

“Pemberi minuman ialah orang yang paling akhir meminum.”

10.  Ia tidak memulai makan, atau minum, sedang di ruang pertemuannya terdapat orang yang lebih berhak memulainya, karena usia atau karena kelebihan kedudukannya, karena hal tersebut melanggar etika, dan menyebabkan pelakunya dicap rakus. Salah seorang penyair berkata, Jika tangan-tangan dijulurkan kepada perbekalan, Maka aku tidak buru-buru mendahului mereka, sebab orang yang paling rakus ialah orang yang paling buru-buru terhadap makanan.

11.  Tidak memaksa teman atau tamunya dengan berkata kepadanya, ‘silakan makan’, namun ia harus makan dengan etis (santun) sesuai dengan kebutuhannya tanpa merasa malu-malu, atau memaksa diri malu-malu, sebab hal tersebut menyusahkan teman atau tamunya, dan termasuk riya’, padahal riya’ itu diharamkan.

12.  Ramah terhadap temannya ketika makan bersama dengan tidak makan lebih banyak dari porsi temannya, apalagi jika makanan tidak banyak, karena makan banyak dalam kondisi seperti itu termasuk memakan hak (jatah) orang lain.

13.  Tidak melihat teman-temannya ketika sedang makan, dan tidak melirik mereka, karena itu bisa membuat malu kepadanya. Ia harus menahan pandangannya terhadap wanita yang makan di sekitarnya, dan tidak mencuri-curi pandangan terhadap mereka, karena hal tersebut menyakiti mereka membuat mereka marah dan ia pun mendapat dosa karena perbuatannya tersebut.

14.  Tidak mengerjakan perbuatan-perbuatan yang dipandang tidak sopan oleh masyarakat setempat. Misalnya, ia tidak boleh mengibaskan tangannya di piring, tidak mendekatkan kepalanya ke piring ketika makan agar tidak ada sesuatu yang jatuh dari kepalanya ke piringnya, ketika mengambil roti dengan giginya ia tidak boleh mencelupkan sisanya di dalam piring, dan tidak boleh berkata jorok, sebab hal ini mengganggu salah satu temannya, dan mengganggu seorang Muslim itu haram hukumnya.

15.  Jika ia makan bersama orang-orang miskin, ia harus mendahulukan orang miskin tersebut. Jika ia makan bersama saudara-saudaranya, ia tidak ada salahnya bercanda dengan mereka dalam batas-batas yang diperbolehkan. Jika ia makan bersama orang yang berkedudukan, maka ia harus santun, dan hormat terhadap mereka.



Etika Setelah Makan

Di antara etika setelah makan ialah sebagai berikut:

1.      Ia berhenti makan sebelum kenyang, karena meniru Rasulullah saw. agar ia tidak jatuh dalam kebinasaan, dan kegemukan yang menghilangkan kecerdasannya.

2.      Ia menjilat tangannya, kemudian mengelapnya, atau mencucinya. Namun mencucinya lebih baik.

3.      Ia mengambil makanan yang jatuh ketika ia makan, karena ada anjuran terhadap hal tersebut, dan karena itu adalah bagian dari syukur atas nikmat.

4.      Membersihkan sisa-sisa makanan di gigi-giginya, dan berkumur untuk membersihkan mulutnya, karena dengan mulutnya itulah ia berdzikir kepada Allah Ta‘ala, berbicara dengan saudara-saudaranya, dan karena kebersihan mulut itu memperpanjang kesehatan gigi.

5.      Memuji Allah Ta‘ala setelab ia makan, dan minum. Ketika ia minum susu, ia berkata,

“Ya Allah, berkahilah apa yang Engkau berikan kepada kami, dan tambahilah rizki-Mu (kepada kami)”.

Jika berbuka puasa di tempat orang, ia berkata,

“Orang-orang yang mengerjakan puasa berbuka puasa di tempat kalian, orang-orang yang baik memakan makanan kalian, dan semoga para malaikat mendoakan kalian.