Thursday, January 1, 2015

Manajemen Risiko dan Manajemen Risiko Bank Syariah



BAB I
PENDAHULUAN

  1. LATAR BELAKANG
Risiko perbankan di Indonesia pada umumnya kurang mendapat perhatian secara serius dan hingga akhir tahun 2000-an. Hal ini terindikasi dari kurangnya perhatian bank untuk menerapkan prinsip-prinsip manajemen risiko sebagai bagian dari manajemen perbankan, sedikit bank yang membentuk komite manajemen risiko dan menempatkannya pada posisi strategis bank, kemudian ada pandangan yang keliru bahwa risiko harus dihindari, padahal risiko selalu ada dalam dunia bisnis. Bank Indonesia telah mewajibkan bank komersial untuk menerapkan manajemen risiko sebagai bagian dari penilaian kinerja bank sebagaimana yang tertuang dalam peraturan bank Indonesia. Para komisaris dan direktur bank mewajibkan memilki sertifikat manajemen risiko yang dikeluarkan oleh Badan Sertifikat Manajemen Risiko. Oleh karena itu, manajemen risiko merupakan hal yang sangat penting.
Manajemen risiko dalam Lembaga Keuangan Syariah mempunyai karakter yang berbeda dengan Konvensional. Manajemen risiko tersebut diupayakan untuk menjaga agar aktifitas operasional bank tidak mengalami kerugian yang melebihi batas kemampuan bank atau membahayakan kelangsungan dan kesehatan bank. Kebijakan pengendalian risiko merupakan salah satu cara untuk melakukan pembatasan atas berbagai risiko dari masing-masing kegiatan.

  1. RUMUSAN MASALAH
1.      Apa pengertian yang dimaksud dengan manajemen risiko serta bagaimana terjadinya?
2.      Apa perlunya manajemen risiko dan bagaimana manajemen dalam Islam?
BAB II
PEMBAHASAN

A.    Risiko
Kata risiko banyak digunakan dalam berbagai pengertian dan sudah biasa dipakai dalam percakapan sehari-hari oleh kebanyakan orang. Istilah (risk) risiko memiliki berbagai definisi. Risiko dikaitkan dengan kemungkinan kejadian atau keadaan yang dapat mengancam pencapaian tujuan dan sasaran organisasi. Risiko dihubungkan dengan kemungkinan terjadinya akibat buruk (kerugian) yang tidak diinginkan, atau tidak terduga. Dengan kata lain, kemungkinan itu sudah menunjukkan adanya ketidakpastian. Terdapat dua macam risiko yang dikenal yaitu risiko spekulatif dan risiko murni.
a.       Risiko Spekulatif
Risiko ini menunjukkan tentang kejadian sesungguhnya kadang-kadang menyimpang dari perkiraan (expectation) ke salah satu dari dua arah. Artinya ada kemungkinan penyimpangan yang menguntungkan dan ada pula penyimpangan yang merugikan. Jika kedua kemungkinan itu ada, maka kita katakan risiko itu spekulatif. Risiko apabila terjadi kemungkinan kerugian tetapi bila disamping itu kemungkinan kerugian terdapat kemungkinan keuntungan, maka risiko itu dinamakan risiko spekulatif. Contohnya: judi menimbulkan kemungkinan-kemungkinan ini, mereka berjudi mungkin menang atau kalah.
b.      Risiko Murni
Lawan dari risiko spekulatif adalah risiko murni yaitu yang hanya ada kemungkinan kerugian. Seorang pemilik rumah terbuka terhadap kemungkinan kerugian. Risiko ini hanyalah mempunyai kemungkinan kerugian dan tidak mempunyai kemungkinan keuntungan. Risiko ini disebut risiko murni.
Sumber penyebab kerugian (dan risiko) dapat diklasifikasikan sebagai risiko sosial, risiko fisik, dan risiko ekonomi. Menentukan sumber risiko adalah penting karena mempengaruhi cara penanganannya.
1.      Risiko Sosial
Sumber pertama risiko adalah masyarakat. Artinya akibat tindakan orang-orang sehingga menciptakan kejadian yang menyebabkan penyimpangan yang merugikan dari harapan kita. Contohnya dengan berkembangnya toko-toko swalayan, maka para pemilik toko menghadapi risiko besarnya pencurian (shoplifting). Akan tetapi tidak semua pencuri itu adalah orang luar melainkan juga penggelapan dan penyalahgunaan oleh pegawainya sendiri.
2.      Risiko Fisik
Ada banyak risiko fisik yang sebagiannya adalah fenomena alam, sedangkan lainnya disebabkan kesalahan manusia. Contohnya antara lain kebakaran. Kebakaran adalah penyebab utama cidera, kematian dan kerusakan harta. Cuaca dan Iklim adalah risiko yang serius. Kadang-kadang hujan terlalu banyak sehingga panen kena banjir dan sungai meluap. Petir menyebabkan kebakaran yang selanjutnya merusakan harta, membunuh atau mencederai orang. Tanah longsor telah umum menjadi sumber kerusakan harta. Semakin padatnya daerah kota maka semakin banyak rumah dibangun diatas tanah yang labil.
3.      Risiko Ekonomi
Banyak risiko yang dihadapi perusahaan bersifat ekonomi. Contoh risiko ekonomi adalah inflasi, fluktuasi lokal, dan ketidakstabilan perusahaan individu, dan sebagainya.


B.     Manajemen Risiko
Menurut Smith (1990), Manajemen Risiko didefinisikan sebagai proses identifikasi, pengukuran, dan kontrol keuangan dari sebuah risiko yang mengancam aset dan penghasilan dari sebuah perusahaan atau proyek yang dapat menimbulkan kerusakan atau kerugian pada perusahaan tersebut. Menurut Clough and Sears (1994), Manajemen risiko didefinisikan sebagai suatu pendekatan yang komprehensif untuk menangani semua kejadian yang menimbulkan kerugian.
Menurut William (1995) Manajemen risiko juga merupakan suatu aplikasi dari manajemen umum yang mencoba untuk mengidentifikasi, mengukur, dan menangani sebab dan akibat dari ketidakpastian pada sebuah organisasi. Tindakan manajemen risiko diambil oleh para praktisi untuk merespon bermacam-macam risiko. Responden melakukan dua macam tindakan manajemen risiko yaitu mencegah dan memperbaiki. Tindakan mencegah digunakan untuk mengurangi, menghindari, atau mentransfer risiko pada tahap awal. Sedangkan tindakan memperbaiki adalah untuk mengurangi efek-efek ketika risiko terjadi atau ketika risiko harus diambil.
Sehingga pengertian manajemen risiko adalah sebuah cara yang sistematis dalam memandang sebuah risiko dan menentukan dengan tepat penanganan risiko tersebut. Ini merupakan sebuah sarana untuk mengidentifikasi sumber dari risiko dan ketidakpastian, dan memperkirakan dampak yang ditimbulkan dan mengembangkan respon yang harus dilakukan untuk menanggapi risiko.
Sasaran dari pelaksanaan manajemen risiko adalah untuk mengurangi risiko yang berbeda-beda yang berkaitan dengan bidang yang telah dipilih pada tingkat yang dapat diterima oleh masyarakat. Hal ini dapat berupa berbagai jenis ancaman yang disebabkan oleh lingkungan, teknologi, manusia, organisasi dan politik. Di sisi lain pelaksanaan manajemen risiko melibatkan segala cara yang tersedia bagi manusia, khususnya, bagi entitas manajemen risiko (manusia, staff, dan organisasi). Pendekatan sistematis mengenai manajemen risiko dibagi menjadi 3 tahap utama, yaitu (1) Identifikasi risiko, (2) Analisa dan evaluasi risiko dan (3) Respon atau reaksi untuk menanggulangi risiko tersebut.

C.    Manfaat Manajemen Risiko
Manfaat yang diperoleh dengan menerapkan manajemen risiko adalah berguna untuk mengambil keputusan dalam menangani masalah-masalah yang rumit seperti:
  1. Memudahkan estimasi biaya.
  2. Memberikan pendapat dan intuisi dalam pembuatan keputusan dalam cara yang benar.
  3. Memungkinkan bagi para pembuat keputusan untuk menghadapi risiko dan ketidakpastian dalam keadaan yang nyata.
  4. Memungkinkan bagi para pembuat keputusan untuk memutuskan berapa banyak informasi yang dibutuhkan dalam menyelesaikan masalah.
  5. Meningkatkan pendekatan sistematis dan logika untuk membuat keputusan.
  6. Menyediakan pedoman untuk membantu perumusan masalah.
  7. Memungkinkan analisa yang cermat dari pilihan-pilihan alternatif.
Menurut Darmawi (2005), manfaat manajemen risiko yang diberikan terhadap perusahaan dapat dibagi dalam 5 (lima) kategori utama yaitu:
  1. Manajemen risiko mungkin dapat mencegah perusahaan dari kegagalan.
  2. Manajemen risiko menunjang secara langsung peningkatan laba.
  3. Manajemen risiko dapat memberikan laba secara tidak langsung.
  4. Adanya ketenangan pikiran bagi manajer yang disebabkan oleh adanya perlindungan terhadap risiko murni, merupakan harta non material bagi perusahaan itu.
  5. Manajemen risiko melindungi perusahaan dari risiko murni, dan karena kreditur pelanggan dan pemasok lebih menyukai perusahaan yang dilindungi maka secara tidak langsung menolong meningkatkan public image.
Manfaat manajemen risiko dalam perusahaan sangat jelas, maka secara implisit terkandung didalamnya satu atau lebih keuntungan yang akan dicapai manajemen risiko antara lain:
  1. Survival
  2. Kedamaian pikiran
  3. Memperkecil biaya
  4. Menstabilkan pendapatan perusahaan
  5. Memperkecil atau meniadakan gangguan operasi perusahaan
  6. Melanjutkan pertumbuhan perusahaan
  7. Merumuskan tanggung jawab social perusahaan terhadap karyawan dan masyarakat.

D.    Manajemen Risiko Bank Syariah
Manajemen risiko menurut peraturan Bank Indonesia nomor 13/23/PBI tahun 2011 tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah, adalah serangkaian prosedur dan metoda yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur memantau dan mengendalikan risiko yang timbul dari kegiatan usaha bank.
Widigdo Sukarman mengidentifikasi manajemen risiko sebagai keseluruhan sistem pengelolaan dan pengendalain risiko yang dihadapai oleh bank yang terdiri dari seperangkat alat, teknik, proses manajemen dan organisasi yang ditujukan untuk memelihara tingkat profitabilitas dan tingkatkesehatan bank yang ditetapkan dalam corporate plan. Berdasarkan pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa manajemen risiko merupakan sistem yang digunakan untuk mengelola risiko yang dihadapi dan mengendalikan risiko tersebut agar tidak merugiakan.

E.     Tujuan Manajemen Risiko Perbankan Syariah
Seperti operasional bank konvensional, bank syariah juga harus menerapkan prinsip kehati-hatian dalam penyaluran dananya berdasarkan prinsip syariah, sehingga menjadi bank yang sehat berdasarkan aturan yang disyaratkan oleh Bank Indonesia. Oleh karena itu tujuan kegiatan manajemen risiko bagi bank syariah yaitu:
1.      Menyediakan informasi tentang risiko kepada pihak regulator.
2.      Memastikan bank tidak mengalami kerugian yang bersifat unacceptable.
3.      Meminimalisasi kerugian dari berbagai risiko yang bersifat uncotrolled.
4.      Mengukur eksposur dan pemusatan risiko.
5.      Mengalokasikan modal dan membatasi risiko.

F.     Jenis Risiko Bank Syariah
Bisnis perbankan baik itu bank konvensional ataupun bank syariah akan berhadapan dengan berbagai jenis risiko. Risiko perbankan syariah diantaranya adalah sebagai berikut :
1.      Risiko Modal (capital risk)
Risiko modal (capital risk) yang merefleksikan tingkat leverage yang dipakai oleh bank. Salah satu fungsi modal adalah melindungi para penyimpan dana terhadap kerugian yang terjadi pada bank. Risiko modal berkaitan dengan kualitas aset. Bank yang menggunakan sebagian besar dananya untuk mendanai aset yang berisiko perlu memiliki modal penyangga yang besar untuk sandaran bila kinerja aset-aset itu tidak baik.
2.      Risiko Likuiditas
Risiko yang disebabkan bank tidak mampu memenuhi kewajiban yang telah jatuh tempo. Bank memiliki dua sumber utama bagi likuiditasnya, yaitu aset dan liabilitas.
3.      Risiko Kredit/ Pembiayaan
Risiko kredit muncul jika bank tidak bisa memperoleh kembali  cicilan pokok dan atau bunga dari pinjaman yang diberikannya atau investasi yang sedang dilakukannya. Hal ini terjadi sebagai akibat terlalu mudahnya bank memberikan pinjaman atau melakukan investasi karena dituntut untuk memanfaatkan kelebihan likuiditasnya sehingga penilaian kredit menjadi kurang cermat dalam mengantisipasi berbagai kemungkinan risiko untuk usaha yang dibiayainya.
4.      Risiko Pasar
Risiko kerugian yang dapat dialami bank melalui portofolio yang dimilikinya sebagai akibat pergerakan variabel pasar (adverse movement) yang tidak menguntungkan. Variabel pasar yang dimaksud adalah suku bunga (interest rate) dan nilai tukar (foreign exchange rate).

Meskipun bank syariah tidak berurusan dengan tingkat suku bunga, namun bagi Indonesia yang menerapkan dual banking system, risiko ini akan berpengaruh secara tidak langsung yaitu pada pricing, mengingat nasabah yang dijangkau oleh bank syariah bukan saja nasabah-nasabah yang loyal secara penuh terhadap syariah, tetapi juga nasabah-nasabah yang akan menempatkan dananya ke tempat-tempat yang akan memberikan keuntungan maksimal baginya tanpa memperhitungkan halal atau haramnya.
5.      Risiko Operasional
Risiko akibat kurangnya (deficiencies) sistem informasi atau sistem pengawasan internal yang akan menghasilkan kerugian yang tidak diharapkan. Risiko ini mencakup kesalahan manusia (human error), kegagalan sistem, dan ketidakcukupan prosedur dan kontrol yang akan berpengaruh pada opersional bank.
6.      Risiko Hukum
Risiko terkait dengan risiko bank yang menanggung kerugian sebagai akibat adanya tuntutan hukum, kelemahan dalam aspek legal atau yuridis. Kelemahan ini diakibatkan antara lain oleh ketiadaan peraturan perundang-undangan yang mendukung atau kelemahan perikatan seperti tidak terpenuhinya syarat-syarat syahnya kontrak dan pengikatan agunan yang tidak sempurna.
7.      Risiko Reputasi
Risiko yang timbul akibat adanya publikasi negatif yang terkait dengan kegiatan usaha bank atau karena adanya persepsi negatif terhadap bank. Hal-hal yang sangat berpengaruh pada reputasi bank antara lain adalah; manajemen, pelayanan, ketaatan pada aturan, kompetensi, fraud (penipuan) dan sebagainya.


8.      Risiko Stratejik
Risiko akibat ketidaktepatan dalam pengambilan dan/atau pelaksanaan suatu keputusan stratejik serta kegagalan dalam mengantisipasi perubahan lingkungan bisnis.
9.      Risiko Kepatuhan
Risiko akibat Bank tidak mematuhi dan/atau tidak melaksanakan peraturan perundang-undangan dan ketentuan yang berlaku, serta Prinsip Syariah.
10.  Risiko Imbal Hasil (Rate of Return Risk)
Risiko akibat perubahan tingkat imbal hasil yang dibayarkan Bank kepada nasabah, karena terjadi perubahan tingkat imbal hasil yang diterima Bank dari penyaluran dana, yang dapat mempengaruhi perilaku nasabah dana pihak ketiga Bank. Konsekwensi dari penerapan imbal hasil adalah kemungkinan terjadinya Displaced Commercial Risk (DCR).
11.   Risiko Investasi (Equity Investment Risk)
Risiko akibat Bank ikut menanggung kerugian usaha nasabah yang dibiayai dalam pembiayaan bagi hasil berbasis profit and loss sharing.
Bank syariah juga harus menghadapi risiko-risiko lain yang unik (khas). Risiko unik ini muncul karena isi neraca bank syariah yang berbeda dengan bank konvensional. Dalam hal ini pola bagi hasil yang dilakukan bank syariah menambah kemungkinan munculnya risiko-risiko lainnya.
a)      Withdrawal risk. Merupakan bagian dari spektrum risiko bisnis. Risiko ini sebagian besar dihasilkan dari tekanan kompetitif yang dihadapi bank syariah dari bank konvensional sebagai counterpart-nya. Bank syariah dapat terkena risiko ini disebabkan oleh deposan bila keuntungan yang mereka terima lebih rendah dari tingkat return yang diberikan oleh rival (pesaing) kompetitornya.
b)      Fiduciary risk. Merupakan risiko yang secara hukum bertanggung jawab atas pelanggaran kontrak investasi baik ketidaksesuainnya dengan ketentuan syariah atau salah kelola terhadap dana investor.
c)      Displaced commercial risk. Merupakan transfer risiko yang berhubungan dengan simpanan kepada pemegang ekuitas. Risiko ini bisa muncul ketika bangk berada di bawah tekanan untuk mendapatkan profit, namun bank  justru harus memberikan sebagian profitnya kepada deposan akibat rendahnya tingkat return.
Risiko tersebut merupakan contoh risiko unik yang harus dihadapi bank syariah. Adapun risiko yang dihadapi bank syariah dalam operasional yang terkait dengan produk pembiayaan yang dijalankan oleh bank syariah yaitu meliputi:
1)      Risiko Terkait Pembiayaan Berbasis Natural Certainty Contracts (NCC). Analisis risiko terkait pembiayaan berbasis NCC adalah mengidentifikasi dan menganalisis dampak dari seluruh risiko nasabah sehingga keputusan pembiayaan yang diambil sudah memperhitungkan risiko yang ada dari pembiayaan berbasis Natural Certainty Contracts, seperti murabahah, ijarah, ijarah muntahia bit tamlik, salam, dan istishna. Penilaian risiko ini mencakup 2 aspek, yaitu:
a.       Default Risk (risiko kebangkrutan) yaitu risiko yang terjadi pada First Way Out yang dipengaruhi oleh hal-hal sebaga berikut:
1)      Industry Risk yaitu risiko yang terjadi pada jenis usaha yang ditentukan oleh hal-hal seperti:
                                                        i.            Karakteristik masing-masing jenis usaha yang bersangkutan
                                                      ii.            Riwayat eksposur pembiayaan yang bersangkutan di bank konvensional dan pembiayaan yang bersangkutan di bank syariah, terutama perkembangan non performing finance jenis usaha yang bersangkutan.
                                                    iii.            Kinerja keuangan jenis usaha yang bersangkutan (industry financial standard).
2)      Kondisi internal perusahaan nasabah seperti manajemen, organisasi, pemasaran, teknis produksi dan keuangan.
3)      Faktor negatif lainnya yang mempengaruhi perusahaan nasabah.
b.      Recovery Risk (risiko jaminan) yaitu risiko yang terjadi pada Second Way Out yang dipengaruhi oleh hal-hal sebagai berikut:
1)      Kesempurnaan pengikatan jaminan.
2)      Nilai jual kembali jaminan (marketability jaminan)
3)      Faktor negatif lainnya, misalnya tuntutan hukum pihak lain atas jaminan, lamanya transaksi ulang jaminan.
4)      Kredibilitas penjamin (jika ada).
2)      Risiko Terkait Pembiayaan Berbasis Natural Uncertainty Contracts (NUC). Analisis risiko terkait pembiayaan berbasis NUC adalah mengidentifikasi dan menganalisis dampak dari seluruh risiko nasabah sehingga keputusan pembiayaan yang diambil sudah memperhitungkan risiko yang ada dari pembiayaan berbasis NUC, seperti mudharabah dan musyarakah. Penilaian risiko ini mencakup antara lain:
a.       Business risk (risiko bisnis yang dibiayai) yaitu risiko yang terjadi pada first way out yang dipengaruhi oleh:

1)      Industri risk yaitu risiko yang terjadi pada jenis usaha yang ditentukan oleh:
                                                        i.            Karakteristik masing-masing jenis usaha yang bersangkutan
                                                      ii.            Kinerja keuangan jenis usaha yang bersangkutan
2)      Faktor  negatif lainnya yang mempengaruhi perusahaan nasabah
b.      Shrinking risk (risiko berkurangnya nilai pembiayaan) yaitu risiko yang terjadi pada saat second way out yang dipengaruhi oleh:
1)      Unusual business risk yaitu risiko bisnis yang di luar biasa yang ditentukan oleh:
                                                        i.            Penurunan drastis tingkat penjualan bisnis yang dibiayai
                                                      ii.            Penurunan drastis harga jual barang/jasa dari bisnis yang dibiayai
                                                    iii.            Penurunan drastis harga barang/jasa dari bisnis yang dibiayai
2)      Jenis bagi hasil yang dilakukan apakah profit and loss sharing atau revenue sharing
                                                        i.            Utuk jenis profit and loss sharing, shrinking risk muncul bila terjadi loss sharing yang harus ditanggung oleh bank
                                                      ii.            Untuk jenis revenue sharing, shrinking risk terjadi bila nasabah tidak mampu menanggung biaya (nafakah) yang seharusnya ditanggung nasabah, sehingga nasabah tidak mampu melanjutkan usahanya.
3)      Disaster risk yaitu keadaan force majeure yang dampaknya sangat besar terhadap bisnis nasabah yang dibiayai bank.
c.       Character risk (risiko karakter buruk mudharib) yaitu risiko yang terjadi pada third way out yang dipengaruhi oleh hal berikut:
1)      Kelalaian nasabah dalam menjalankan bisnis yang dibiayai bank
2)      Pelanggaran ketentuan yang telah disepakati sehingga nasabah dalam menjalankan bisnis yang dibiayai bank tidak lagi sesuai dengan kesepakatan
3)      Pengelolaan internal perusahaan seperti manajemen, organisasi, pemasaran, teknis produksi dan keuangan yang tidak dilakukan secara profesional sesuai dengan standar pengelolaan yang disepakati antara bank dan nasabah.

G.    Prinsip Manajemen Risiko Bank Syariah
Prinsip syariah dalam manajemen risiko dapat dilakukan dengan beberapa hal sebagai berikut:
1.      Menghindari Risiko (risk avoidance)
a.       Pelarangan bunga karena riba (prinsip 1).
b.      Penerapan al bay untuk perdagangan dan tata niaga (prinsip 2).
c.       Menghindari gharar dalam perjanjian kontrak yang ambigu (prinsip 3).
d.      Pelarangan maisir/judi (prinsip 4).
2.      Mengurangi Risiko (risk reduction). Ada empat prinsip yang harus diterapkan seperti dalam menghindari risiko (prinsip 1 sampai 4).
3.      Mentransfer risiko melalui asuransi dan keuangan derivatif. Ada tiga prinsip yang  bisa ditransfer yakni prinsip 1, 3 dan 4.
Kerangka manajemen risiko pada umumnya meliputi:
1)      Identifikasi Risiko.
Dilaksanakan dengan melakukan analasis terhadap karakteristik risiko yang melekat pada aktivitas fungsional, risiko terhadap produk dan kegaitan usaha.
2)      Pengukuran Risiko
Dilaksanakan dengan melakukan evaluasi secara berkala terhadap kesesuaian asumsi, sumber data dan prosedur yang digunakan untuk mengukur risiko, penyempurnaan terhadap sistem pengukuran risiko apabila terdapat perubahan kegiatan usaha, produk, transaksi dan faktor risiko yang bersifat material.
3)      Pemantauan Risiko
Dilaksanakan dengan melakukan evaluasi terhadap kedapatan risiko. Penyempurnaan proses pelaporan terhadap perubahan kegiatan usaha, produk, transaksi, faktor risiko, teknologi informasi dan sistem informasi manajemen yang bersifat material.
4)      Pengendalian Risiko
Dilakukan sesuai dengan kegiatan usaha perbankan syariah. Pelaksanaan  proses pengendalian risiko digunakan untuk mengelola risiko tertentu yang dapat membahayakan kelangsungan usaha.



Hasil penilaian dampak (impact) dan probabilitas dari manajemen risiko dari bank syariah ini dapat dinyatakan sebagai berikut:
  1. Low Impact : Dampaknya kecil, tidak ada kerugian keuangan.
  2. Low to Moderate : Kerugian keuangan yang kecil, terdapat gangguan dalam kegiatan pekerjaan sehari-hari.
  3. Moderate : Terjadi gangguan namun masih dapat melanjutkan bisnis, kerugian keuangan yang cukup besar, reputasi sedikit terpengaruh.
  4. Moderate to High : Terjadi gangguan pada kegiatan bisnis tertentu, kerugian keuangan yang besar, reputasi terganggu pada bisnis/nasabah tertentu.
  5. High Impact: Gangguan bisnis yang signifikan, kerugian keuangan yangsangat besar, reputasi bank terganggu pada seluruh aspek bisnis
BAB III
PENUTUP

Risiko adalah potensi kerugian akibat terjadinya suatu peristiwa (events) tertentu. Manajemen Risiko adalah serangkaian metodologi dan prosedur yang digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, memantau, dan mengendalikan Risiko yang timbul dari seluruh kegiatan usaha Bank. Manajemen risiko merupakan sistem yang digunakan untuk mengelola risiko yang dihadapi dan mengendalikan risiko tersebut agar tidak merugikan.
Manajemen Risiko diperlukan oleh organisasi maupun oleh bank untuk menjamin kelangsungan usaha atau kesehatan organisasinya. Bagi bank syariah, manajemen risiko harus diterapkan sesuai dengan peraturan Bank Indonesia nomor 13/23/PBI tahun 2011 tentang tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.
Kegiatan dari manajemen risiko tersebut meliputi manajemen risiko kredit, risiko pasar, risiko likuiditas, risiko operasional, risiko hukum, risiko reputasi, risiko stratejik, risiko kepatuhan, risiko imbal hasil, dan risiko investasi. Berbeda dengan bank konvensional, bank syariah juga menghadapi jenis risiko lainnya yaitu withdrawal risk, fiduciary risk dan displaced commercial risk begitu pula risiko yang terkait dengan produk yaitu risiko terkait pembiayaan berbasis NCC dan risiko terkait pembiayaan berbasis NUC.



DAFTAR PUSTAKA

Nikensari, Sri Indah. 2012. Perbankan Syariah Prinsip, Sejarah dan Aplikasinya. Semarang: PT Pustaka Rizki Putra.
Muhammad. 2005. Manajemen Bank Syariah. Yogyakarta: Unit Penerbit dan Percetakan (UPP).
Kountur, Ronny. 2004. Manajemen Risiko Operasional.  Jakarta: PPM.
Peraturan Bank Indonesia Nomor 13/23/PBI/2011 2011 tentang tentang Penerapan Manajemen Risiko Bagi Bank Umum Syariah dan Unit Usaha Syariah.

1 comment:

Beri Komentar...
Jangan lupa klik iklan-iklan blog ini..